KARAWANG – Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa pasien yang datang lebih dahulu ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) akan mendapatkan pelayanan lebih dulu. Namun, dalam praktik pelayanan kegawatdaruratan, rumah sakit menerapkan sistem triase, yakni metode penilaian medis yang menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat kegawatan kondisi pasien, bukan urutan kedatangan.
Melalui edukasi yang terus disampaikan kepada masyarakat, RSUD Jatisari menegaskan bahwa sistem triase merupakan standar pelayanan di IGD yang bertujuan memastikan pasien dengan kondisi paling kritis memperoleh pertolongan secepat mungkin demi menyelamatkan nyawa.
Koordinator Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Jatisari, Yudi Solehudin, S.Kep., Ners., menjelaskan bahwa pelayanan di IGD berorientasi pada tingkat urgensi medis pasien. Oleh karena itu, pasien yang baru datang bisa saja mendapatkan penanganan lebih dahulu apabila kondisi kesehatannya dinilai lebih gawat.
“Sering kali masyarakat bertanya mengapa ada pasien yang baru datang tetapi langsung ditangani lebih dulu. Perlu dipahami bahwa di IGD berlaku sistem triase, sehingga prioritas diberikan kepada pasien dengan kondisi yang paling gawat dan mengancam nyawa,” ujar Yudi, Jumat (29/5/2026).
Menurutnya, sistem triase merupakan bagian penting dari pelayanan kegawatdaruratan yang diterapkan di seluruh rumah sakit. Sistem ini membantu tenaga medis mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan profesional dalam situasi yang membutuhkan respons segera.
Dalam penerapannya, triase membagi pasien ke dalam beberapa kategori berdasarkan tingkat kegawatan. Triase Merah diperuntukkan bagi pasien dengan kondisi yang mengancam nyawa dan membutuhkan tindakan medis segera, seperti henti napas, serangan jantung, atau perdarahan hebat.
Sementara itu, Triase Kuning diberikan kepada pasien dengan kondisi serius yang memerlukan penanganan cepat, namun masih memungkinkan menunggu dalam waktu tertentu, seperti kasus patah tulang, cedera sedang, atau nyeri berat.
Adapun Triase Hijau ditujukan bagi pasien dengan kondisi ringan yang tidak mengancam nyawa, seperti demam ringan, luka ringan, atau keluhan kesehatan yang masih stabil sehingga dapat menunggu lebih lama dibandingkan pasien dengan kondisi darurat.
Yudi menegaskan bahwa penerapan sistem triase bukan bentuk diskriminasi pelayanan, melainkan langkah medis yang dilakukan untuk menyelamatkan pasien yang berada dalam kondisi paling kritis.
“Triase bukan berarti membedakan pasien. Semua pasien tetap akan mendapatkan pelayanan. Namun dalam kondisi darurat, tenaga kesehatan harus mendahulukan pasien yang peluang keselamatannya sangat bergantung pada kecepatan penanganan,” tegasnya.
Ia juga mengajak masyarakat untuk memahami mekanisme pelayanan di IGD agar tidak terjadi kesalahpahaman ketika harus menunggu antrean pemeriksaan.
“Kami berharap masyarakat dapat memahami bahwa ketika ada pasien yang didahulukan, bukan berarti pasien lain diabaikan. Justru sistem ini dibuat agar pelayanan berjalan lebih efektif, adil, dan berorientasi pada keselamatan pasien,” katanya.
Lebih lanjut, Yudi menilai edukasi mengenai sistem triase sangat penting untuk meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, khususnya terkait pelayanan kegawatdaruratan. Dengan pemahaman yang baik, pasien maupun keluarga dapat lebih tenang dan memahami alasan medis di balik proses pelayanan yang dilakukan petugas IGD.
“Keselamatan pasien adalah prioritas utama. Sistem triase membantu tenaga kesehatan memastikan bahwa pertolongan pertama diberikan kepada mereka yang paling membutuhkan dalam waktu yang sangat terbatas. Kami mengajak masyarakat untuk mempercayai proses penilaian medis yang dilakukan petugas IGD karena setiap keputusan diambil berdasarkan kondisi klinis pasien dan standar pelayanan kesehatan yang berlaku,” pungkasnya.
Dengan penerapan sistem triase, RSUD Jatisari terus berkomitmen menghadirkan pelayanan kegawatdaruratan yang cepat, tepat, dan profesional. Masyarakat pun diimbau untuk memahami serta mempercayai penilaian medis yang dilakukan tenaga kesehatan di IGD, karena setiap keputusan yang diambil berlandaskan pada keselamatan pasien sebagai prioritas utama.
Penulis : Arief Rachman
