Pelatihan AC Mobil BLK Karawang-Polban Tingkatkan Kompetensi Alumni dan Dorong Usaha Berkelanjutan

Header Menu


Pelatihan AC Mobil BLK Karawang-Polban Tingkatkan Kompetensi Alumni dan Dorong Usaha Berkelanjutan

19 Agu 2026

KARAWANG — Upaya meningkatkan kompetensi tenaga kerja sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat terus dilakukan Pemerintah Kabupaten Karawang. Salah satunya melalui pelatihan servis dan perbaikan sistem pengondisian udara (AC) mobil yang digelar Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Karawang bersama Politeknik Negeri Bandung (Polban) di Balai Latihan Kerja (BLK) Karawang, Rabu (12/8/2026).


Pelatihan tersebut diikuti sebanyak 16 peserta yang seluruhnya merupakan alumni BLK Karawang. Para peserta diprioritaskan dari kalangan alumni yang telah memiliki usaha, khususnya di bidang jasa servis dan perbaikan sistem pendingin, sehingga pelatihan diharapkan mampu meningkatkan kompetensi sekaligus memperluas cakupan layanan usaha mereka.


Kepala UPTD BLK Disnakertrans Kabupaten Karawang, Agung Jauhari, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari kolaborasi antara BLK Karawang dan Polban yang telah berlangsung selama kurang lebih lima tahun.


“Untuk kegiatan dengan Polban Bandung ini sudah bekerja sama selama lima tahun. Kali ini bentuk kerja samanya melalui pelatihan AC mobil, termasuk bantuan alat dan pembelajaran kepada alumni BLK,” ujar Agung, Rabu (12/8/2026).


Menurut Agung, pelatihan bagi alumni BLK menjadi langkah strategis agar kompetensi yang sebelumnya telah diperoleh tidak berhenti setelah peserta menyelesaikan pendidikan dan pelatihan. Sebaliknya, keterampilan tersebut perlu terus diperbarui mengikuti perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar.


“Alumni BLK ini kita panggil, khususnya yang sudah memiliki wirausaha, agar dapat meningkatkan keterampilan sekaligus penghasilannya,” katanya.


Agung menjelaskan, sebagian peserta sebelumnya telah menjalankan usaha servis AC rumah. Melalui pelatihan AC mobil, mereka memperoleh kompetensi tambahan yang dapat membuka peluang pengembangan usaha ke sektor otomotif.


“Sebelumnya mereka ada yang berwirausaha di bidang AC rumah, sekarang belajar perbaikan AC mobil. Jadi ada pengetahuan baru yang bisa dikembangkan dan mudah-mudahan dapat menambah penghasilan,” tuturnya.


Dorong Alumni BLK Naik Kelas


Pelatihan tersebut tidak hanya memberikan pemahaman mengenai teknik dasar dan lanjutan servis AC kendaraan, tetapi juga diarahkan untuk membangun kesiapan peserta dalam mengembangkan usaha secara profesional.


Narasumber dari Polban, Prof. Ir. Sumeru, M.T., Ph.D., mengatakan materi pelatihan disusun agar dapat memberikan manfaat bagi peserta dengan latar belakang pengalaman yang berbeda.


“Yang sudah memiliki pengalaman diharapkan bisa meningkatkan skill dan melakukan tindakan servisasi dengan benar. Sedangkan yang belum berpengalaman, setelah mengikuti pelatihan ini diharapkan bisa membuka bengkel servis AC mobil sendiri,” jelas Sumeru.


Dengan demikian, pelatihan tidak semata-mata berorientasi pada peningkatan kemampuan teknis, tetapi juga membuka peluang lahirnya wirausaha baru di bidang jasa perawatan dan perbaikan AC kendaraan.


Kenalkan Refrigeran Ramah Lingkungan


Hal menarik lainnya dalam pelatihan tersebut adalah pengenalan terhadap teknologi refrigeran yang lebih ramah lingkungan. Peserta diperkenalkan dengan refrigeran R1234yf yang telah banyak digunakan pada kendaraan di Eropa dan Amerika Serikat.


Sumeru menjelaskan, R1234yf memiliki nilai global warming potential (GWP) di bawah satu. Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan refrigeran R134a yang hingga kini masih banyak digunakan pada sistem AC kendaraan di Indonesia.


“AC mobil itu relatif mudah bocor karena ada getaran dari mesin. Ketika refrigeran bocor, sama saja kita membuang zat yang dapat membuat bumi semakin panas,” ungkapnya.


Menurutnya, penggunaan refrigeran dengan tingkat GWP lebih rendah menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi dampak sistem pendingin kendaraan terhadap lingkungan.


R1234yf sendiri sebenarnya telah tersedia di Indonesia. Namun, penggunaannya masih relatif terbatas, antara lain pada kendaraan kelas premium seperti Ferrari dan Lamborghini.


Salah satu faktor yang menjadi kendala adalah harga R1234yf yang masih jauh lebih tinggi dibandingkan R134a karena tingkat penggunaannya belum sebesar refrigeran konvensional.


“Kalau diproduksi secara massal, kemungkinan harganya bisa sama dengan freon biasa. Karena itu harus ada upaya dari pemerintah untuk menganjurkan penggunaan refrigeran yang lebih ramah lingkungan,” kata Sumeru.


Polban Berikan Dukungan Peralatan Praktik


Kolaborasi antara Polban dan BLK Karawang juga diwujudkan melalui dukungan sarana pembelajaran. Dalam kegiatan tersebut, Polban memberikan bantuan berupa trainer unit atau perangkat praktik yang dapat dimanfaatkan BLK Karawang untuk menunjang proses pelatihan.


Menurut Sumeru, kegiatan tersebut merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan Polban. Perguruan tinggi tidak hanya menjalankan fungsi pendidikan, tetapi juga berperan dalam mentransfer pengetahuan dan teknologi kepada masyarakat.


Keberadaan perangkat praktik tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas BLK Karawang dalam memberikan pelatihan berbasis kebutuhan industri serta perkembangan teknologi otomotif.


Tahun Depan Bidik AC Kendaraan Listrik


Kerja sama BLK Karawang dan Polban diproyeksikan terus berkembang seiring perubahan teknologi kendaraan. Setelah tahun ini peserta mendapatkan pelatihan AC kendaraan berbahan bakar minyak, pengembangan kompetensi berikutnya diarahkan pada teknologi kendaraan listrik.


Sumeru mengatakan, pelatihan AC kendaraan listrik direncanakan menjadi salah satu agenda pengembangan kerja sama pada tahun berikutnya.


“Kalau tahun ini kita fokus pada AC mobil berbahan bakar minyak, insyaallah tahun depan kita akan memberikan pelatihan AC mobil listrik,” pungkasnya.


Langkah tersebut dinilai penting mengingat perkembangan kendaraan listrik akan turut mengubah kebutuhan kompetensi tenaga kerja di sektor otomotif. BLK sebagai lembaga pelatihan dituntut mampu beradaptasi agar lulusan dan alumninya memiliki keterampilan yang relevan dengan perkembangan teknologi.


Melalui sinergi Disnakertrans Karawang dan Polban, pelatihan diharapkan tidak berhenti pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi mampu menciptakan efek berantai berupa perluasan usaha, peningkatan pendapatan, pembukaan lapangan kerja baru, serta terbentuknya tenaga kerja Karawang yang semakin kompeten dan adaptif terhadap perubahan teknologi.


Penulis : Arief Rachman